Kebijakan Amerika atas China Tak Gagal, Hanya Perlu Penyesuaian Ulang

Kebijakan Amerika atas China

Kebijakan Amerika atas China Tak Gagal, Hanya Perlu Penyesuaian Ulang

Kebijakan Amerika atas China Tak Gagal, Hanya Perlu Penyesuaian Ulang,- Amerika Serikat sebagai negara adidaya bertanggung jawab merangkul China sebagai bagian dari tatanan dunia. Alih-alih mempertahankan kerja sama dan persaingan sehat, ambisi China telah menimbulkan kerusakan bagi hubungan kedua belah pihak maupun komunitas global. Sudah waktunya Amerika merevisi kebijakan terkait China.

Empat puluh tahun sudah China memulai reformasi ekonomi yang telah membantu mengubahnya dari negara komunis miskin yang terisolasi menjadi kekuatan global yang semakin percaya diri dan berkemampuan. Kini semakin banyak pengamat di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa AS mengadopsi strategi yang salah dalam menghacapi China. Penilaian mereka tersebut sebagian besar berakar pada dua proposisi.

Menurut analisis Ali Wyne dalam World Politics Review, pertama, Amerika secara keliru menganggap atau mengharapkan akan menjadi lebih demokratis seiring ekonominya bertumbuh pesat. Kedua, dengan terus berupaya mengintegrasikan China ke dalam tatanan internasional pasca-perang, AS pada akhirnya memungkinkan bangkitnya sebuah negara yang kini tidak hanya menjadi pesaing utamanya, tapi juga calon penerus di puncak tatanan global.

Baca Juga: Trump Bela Anggota Navy Seal, Status dan Lencana Trident Batal Dicabut

Sulit untuk memperdebatkan poin pertama. Elizabeth Economy dari Council on Foreign Relations, dikutip dari World Politics Review, memperingatkan “perubahan politik adalah permainan yang panjang, dan permainan itu belum berakhir.”

Namun, terutama di bawah Presiden Xi Jinping, China secara tegas telah berpaling menuju otoritarianisme. China menindak organisasi-organisasi non-pemerintah asing dengan lebih agresif, secara lebih eksplisit menolak nilai-nilai dan pemerintahan Barat, dan mengonsolidasikan posisi sebagai negara pengawasan paling luas dan memiliki jangkauan paling jauh di dunia IDNPlay Poker 77 Asia.

Dengan keputusan Partai Komunis China untuk mengakhiri batasan masa jabatan presiden, Xi siap untuk memimpin China sepanjang sisa hidupnya. Evan Osnos dari The New Yorker mengamati, China sedang “memasuki kembali masa ketika kekayaan seperlima umat manusia bergantung pada tingkat yang luar biasa terhadap pengelihatan, impuls, dan rasa tidak aman dari sosok Xi yang penyendiri.”

Namun, poin kedua—bahwa AS telah membantu kebangkitan China sebagai pesaing utamanya—lebih bisa diperdebatkan. Bisakah Amerika menghentikan kemajuan China secara tidak terbatas atau membentuk pesaing yang kurang begitu tangguh?

Ali Wyne dalam World Politics Review berpendapat, begitu banyak perbedaan yang mendefinisikan hubungan AS-China, sehingga hampir tidak mungkin untuk membayangkan bahwa China akan berkembang menjadi sekutu AS. Di samping sejarah dan budaya mereka, Amerika bangga menjadi eksperimen demokrasi paling sukses di dunia. Sementara itu, China menganggap pluralisme gaya Barat sebagai ancaman bagi keberlangsungan hidupnya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengobrol dengan Presiden China Xi Jinping saat upacara penyambutan di Aula Besar Rakyat Beijing 9 November 2017 - Kebijakan Amerika atas China Tak Gagal, Hanya Perlu Penyesuaian Ulang

Namun, ada dua kesamaan paradoks antara Amerika dan China. Pertama, China sebagian besar percaya bahwa dirinya unik dalam sejarah umat manusia, meskipun tidak memproklamirkan keistimewaannya dengan keras atau mempromosikan singularitasnya hampir sama kuatnya seperti AS. Kedua, setelah menghabiskan sebagian besar sejarahnya di puncak hierarki Asia-Pasifik, China tidak memiliki pengalaman atau antusiasme untuk mempertahankan sistem internasional dalam kemitraan dengan rekan yang setara.

Jauh lebih masuk akal untuk merekonstruksi empat dekade terakhir sedemikian rupa sehingga China akan secara permanen menghormati kepentingan strategis AS. Meskipun merupakan penerima keuntungan utama dari tatanan pasca-perang setelah AS, namun China telah lama lalai dalam mengecualikan diri dari desain sistem tersebut.

Selain itu, budaya populer maupun para pejabat China secara luas menganggap keunggulan Barat sejak Revolusi Industri sebagai penyimpangan dari bentangan sentralitas China yang telah jauh lebih lama. China didorong tidak hanya oleh nostalgia lama—yang diwujudkan dalam seruan kerap Xi untuk “peremajaan besar bangsa China”—tetapi juga oleh peningkatan kapasitas material untuk mewujudkannya.

China mungkin tidak mengalami kebangkitan yang cepat seandainya AS tetap menunjukkan keraguan, tetapi China bercita-cita untuk percaya bahwa China akan mengalami stagnasi tanpa batas tanpa adanya bantuan Amerika. Sejarah China menunjukkan bahwa China tidak ada artinya tanpa kegigihan.

Hanya dalam 90 tahun terakhir, China mengalami perang saudara yang menghancurkan, diikuti oleh pendudukan Jepang yang brutal, kelaparan terburuk dalam sejarah manusia, dan tak lama kemudian satu dekade pergolakan politik hebat.

Ali Wyne dalam World Politics Review menegaskan, AS mungkin bisa menunda tantangan dari China, tetapi AS tidak akan bisa melakukan banyak upaya begitu China hadir. Selama empat dekade dan delapan pemerintahan di Washington, kebijakan AS terhadap China telah memfasilitasi perkembangan dinamika yang telah membantu mencegah persaingan strategis dari beralih ke permusuhan yang tidak terbatas, termasuk pertukaran orang-ke-orang yang kuat, saling ketergantungan ekonomi yang mendalam, serta beragam dialog kebijakan kelembagaan dan informal.

Bisakah Amerika menghentikan kemajuan China secara tidak terbatas atau membentuk pesaing yang kurang begitu tangguh? Akhirnya, bagaimana jika Amerika telah mencoba mengendalikan China? Hal itu mungkin akan mengulur lebih banyak waktu, tetapi dengan risiko menciptakan China sebagai antagonis yang keras kepala.

Pada 1967, lima tahun sebelum perjalanan bersejarahnya ke China, Presiden AS saat itu Richard Nixon memperingatkan bahwa AS tidak bersikap bijaksana jika “meninggalkan China selamanya di luar keluarga bangsa-bangsa, membiarkan China di sana untuk memelihara fantasi-fantasinya, merayakan kebenciannya, dan mengancam negara-negara tetangganya.”

Saat ini, hubungan Amerika dengan China semakin menantang, tegang, dan membuat frustrasi. Meski demikian, lebih disukai untuk berurusan dengan China sebagai pesaing yang kompleks yang memiliki kepentingan dalam mempertahankan stabilitas dasar dalam hubungan bilateral, daripada bersaing di kemudian hari dengan China sebagai musuh yang secara gigih lebih eksplisit dan agresif dalam revisionisme.

Opini Gencatan Senjata Perang Dagang Amerika China Tidak Sesederhana Itu5 - Kebijakan Amerika atas China Tak Gagal, Hanya Perlu Penyesuaian Ulang

Walau China memangkas unsur-unsur tertentu dari tatanan pasca-perang, China hampir tidak melepaskan diri dari sistem itu. China telah berkontribusi semakin besar dalam pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa dan terus berkeinginan untuk mendapatkan suara yang lebih besar dalam dua institusi dasar—yang juga dipimpin AS—dari tatanan global pasca-perang: Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Meski tetap tegang, Amerika dan China telah banyak bekerja sama secara mengesankan untuk meningkatkan stabilitas ekonomi setelah krisis keuangan global, mengatasi perubahan iklim, mengegolkan kesepakatan nuklir Iran, dan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Korea Utara.

Tidak diragukan lagi bahwa ketidakpercayaan antara AS dan China berkembang pesat di sejumlah dimensi. Seperti dicatat sejarawan Perang Dingin Odd Arne Westad, “Para pemimpin Partai Komunis China secara obsesif mempelajari bagaimana Uni Soviet runtuh, untuk menghindari nasib yang sama bagi negara mereka.”

Mereka menghargai bahwa konfrontasi bersenjata dengan AS akan berlangsung lama, yang dapat menimbulkan kerusakan pada ambisi mereka untuk mencapai kebangkitan nasional yang damai.

Dengan demikian, China kemungkinan besar akan fokus pada persaingan dengan Amerika secara ekonomi. Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) bertujuan untuk memperkuat perdagangan dan investasi China di seluruh Eurasia. Sementara itu, kampanye “Made in 2025” berupaya menjadikan China sebagai pemimpin dunia dalam 10 area teknologi mutakhir, menurut analisis Ali Wyne.

China tidak serta-merta berusaha untuk menggantikan posisi Amerika sebagai negara adidaya dunia, terutama jika peran itu akan memaksakan kewajiban nyata dan/atau yang sekadar dirasakan bagi China untuk mengendalikan urusan global.

Berkaca pada pertemuan baru-baru ini di Beijing antara jurnalis dan cendekiawan Barat bersama para elit China, kolumnis Financial Times Martin Wolf menjelaskan, “China tidak ingin menjalankan dunia.” Meringkas pandangan para peserta China pada pertemuan tersebut, Wolf menambahkan bahwa masalah internal China “terlalu besar untuk ambisi seperti itu. Lagipula China tidak memiliki pandangan terlatih tentang apa yang harus dilakukan.”

Lalu bagaimana vonisnya terhadap kebijakan Amerika Serikat mengenai China? Ke mana kedua negara tersebut harus melangkah? Pihak-pihak yang mendesak AS untuk mengkalibrasi ulang kebijakannya terkait China dengan tepat memperingatkan ilusi yang menyamar sebagai ambisi.

Kesejahteraan ekonomi yang lebih besar belum mempercepat liberalisasi politik di China sampai saat ini. AS dapat bersikap bijaksana dengan menghargai bahaya yang telah terbukti: menyerah pada fatalisme yang menyamar sebagai realisme.

AS dan China tidak dapat mengatasi perbedaan mereka secara tak terbatas. Namun, keduanya dapat memperdalam bidang kerja sama yang sudah ada dan mengejar yang baru.

Ali Wyne dalam World Politics Review lantas menyimpulkan, kepentingan timbal-balik dan saling ketergantungan ekonomi masih menjadi harapan terbaik untuk menjadi pondasi bagi hubungan yang akan sangat menantang, terlepas dari keterlepasan hubungan AS-China selama 40 tahun terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *