Perjuangan Eropa Tahan Serangan COVID-19

Perjuangan Eropa Tahan Serangan COVID 19 3 - Perjuangan Eropa Tahan Serangan COVID-19

Perjuangan Eropa Tahan Serangan COVID-19 Gelombang Kedua

Perjuangan Eropa Tahan Serangan COVID-19 – Ancaman gelombang kedua virus corona Covid-19 bisa sangat berbeda dengan gelombang pertama. Jika sebelumnya orang tua lebih rentan, kini orang yang jauh lebih muda mungkin paling berisiko.

Gelombang kedua COVID-19 yang menyerang Eropa membuat negara-negara di benua biru jatuh bangun untuk membangun benteng pertahanan. Gelombang kedua COVID-19 yang tak tertolak itu telah memaksa negara-negara Eropa untuk bertindak ekstra melakukan berbagai cara untuk menahan meluasnya infeksi.

Tiga cara yang paling diandalkan oleh politisi pemimpin negara di Eropa adalah jaga jarak, dilarang berkumpul lebih dari enam orang, penguncian terbatas pada wilayah tertentu. Dari tiga cara ini, pengetatan aturan dilakukan untuk penggunaan masker, larangan perjalanan dan untuk tempat hiburan dilakukan dengan menerapkan jam malam.

Jika infeksi virus corona tercatat terus melonjak, maka bukan suatu hal yang mustahil bahwa negara-negara di Eropa akan melakukan penguncian total dalam skala nasional. Pilihan terakhir itu adalah pilihan paling sulit untuk diputuskan karena ketakutan gejolak ekonomi yang akan menghadang.

Madrid melarang warga bepergian kecuali dalam keadaan penting

Salah satu negara di Eropa dengan tingkat infeksi tinggi adalah Spanyol. Di negeri para matador tersebut, ibukota Madrid adalah titik sentral yang memiliki tingkat infeksi dua kali lipat dari tingkat nasional. Pemerintah melakukan pelarangan bepergian secara ketat baik warga Madrid atau warga luar yang akan masuk Madrid.

Laman berita athleticfieldmarker.com menjelaskan, bahwa larangan tersebut segera akan dilakukan meski otoritas lokal mengatakan kebijakan tersebut tak memiliki dasar hukum jelas. Izin bepergian dan melewati batas ibukota hanya diperuntukkan kepada orang yang bekerja, sekolah, periksa dokter, belanja kebutuhan pokok. Selain itu, tidak diperbolehkan.

Lonjakan Kasus Virus Covid-19 Kemungkinan Besar Terjadi di Musim Dingin Mendatang

Jerman menerbitkan larangan bepergian ke beberapa wilayah di negara di Eropa

Jerman adalah salah satu negara Eropa yang memiliki efektifitas pengujian, sistem lacak dan telusur yang terbaik diantara negara-negara Eropa lainnya. Selain itu, infrastruktur kesehatannya juga memiliki kemampuan untuk melakukan tindakan yang cepat dalam pengobatan.

Gelombang kedua COVID-19 yang menyerang Eropa, membuat Jerman melakukan kewaspadaan baru. Melissa Godin, jurnalis Times memberikan penjelasan bahwa peningkatan kasus infeksi di Jerman karena dipengaruhi oleh meningkatnya kasus di negara-negara tetangga.

Virus corona tak memiliki kosakata “mundur”

Di Inggris, serangan virus corona mengakibatkan kematian tertinggi dari semua negara di Eropa. Total kematian yang diakibatkan oleh virus dari Wuhan ini, mencapai 42.072 orang per 30 September 2020. Setelah Inggris ada Italia dengan 35 ribuan orang meninggal, Prancis dan Spanyol dengan kematian 31 ribuan orang meninggal, Belgia sebanyak 10 ribuan dan Jerman sebanyak 9 ribuan orang meninggal karena COVID-19.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson harus menghadapi kritik keras dari para lawan politiknya dari kelompok sayap kanan karena sistem uji. Tracing dan tracking yang masih bermasalah. Selain itu, Boris juga masih harus menghadapi orang-orang yang meyakini teori konspirasi corona dengan tidak mau mengenakan masker dan menolak jaga jarak.