PM Jepang Cuti Setelah Status Darurat Corona

PM Jepang Cuti Setelah Status Darurat Corona

PM Jepang Mengambil Cuti Setelah Status Darurat Corona Di Cabut

PM Jepang Cuti Setelah Status Darurat Corona – Setelah bekerja selama 148 hari tanpa libur dalam menangani pandemi virus corona, akhirnya Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, mengambil cuti kerja sebanyak satu hari.

Karena jumlah kasus virus corona di Jepang telah menurun dan perekonomian berangsur pulih, Abe akhirnya bisa mengambil cuti pada 21 Juni yang menjadi hari libur pertamanya sejak 25 Januari.

Pada 14 Mei lalu, Abe juga mencabut status darurat virus corona di perfektur lainnya, artinya Jepang kini sudah mulai melonggarkan kebijakan social distancing. Roda perekonomian di Jepang perlahan kembali berputar, dan tentunya menjadi kabar bagus setelah mengalami resesi teknikal di kuartal I-2020 lalu.

Saat ini, Jepang memang perlahan mulai bangkit dari COVID-19. Abe berani mengambil cuti libur karena jumlah kasus COVID-19 di Jepang sudah menurun dan kondisi ekonominya yang mulai membaik.

Namun keputusan Abe untuk libur sehari ini mendapatkan tanggapan beragam dari netizen Jepang. Banyak dari mereka yang mendukung dan berterima kasih karena Abe telah memberikan contoh baik mengenai etika bekerja. Tapi ada juga yang masih menuntut agar ia bekerja dengan baik atau menganggap kerja nonstop adalah hal biasa.

“Beristirahatlah dengan baik dan tolong beri saya 100.000 yen lagi,” kata seorang netizen.

“Beristirahatlah lebih lama,” ujar netizen lainnya.

“Lalu kenapa? Ada banyak orang di seluruh dunia yang bekerja setiap hari, semua berkat pemerintah mereka,” ucap netizen.

Di samping itu, sejumlah netizen juga menyampaikan pesan positif melalui tagar di Twitter seperti #HaveAGoodRestShinzoAbe, #MakeSureYou’reEatingEnoughShinzoAbe, #ThanksforYourHardWorkShinzoAbe, dan #RestEvenMoreShinzoAbe.

Akan tetapi, ada pula warganet yang meledeknya.

“Pastikan Anda memiliki waktu istirahat yang baik sehingga Anda bisa sepenuhnya bersiap untuk gelombang kedua (virus corona),” kicau salah seorang warganet.

Budaya kerja dan disiplin memang sudah mengakar di jiwa orang Jepang. Sejak kecil, orang Jepang sudah dididik dengan keras mengenai hal tersebut.

Selain itu, orang Jepang juga punya budaya rasa malu bila tidak memberikan yang terbaik dalam pekerjaannya. Mereka juga takut menjadi bahan gunjingan rekan kerjanya bila mengambil cuti.

Melihat hal tersebut, jatah cuti pekerja di Jepang seringkali tidak digunakan kecuali ada kepentingan yang sangat mendesak. Padahal setiap pekerja punya jatah cuti selama 20 hari per tahun.

Menurut angka dari Pemerintah Jepang, hanya 52% pekerja yang mengambil cuti tahunan dalam setahun. Sedangkan menurut survei dari perusahaan perjalanan Expedia, pekerja Jepang hanya mengambil setengah dari cuti tahunan yang berjumlah 20 hari itu. .

Sebanyak 58% dari mereka terpaksa mengambil cuti tahunan dan setelahnya merasa bersalah. Sementara sisanya 43%, menyatakan mendapat dukungan dari pimpinan perusahaan untuk mengambil cuti.

Sebelumnya, Jepang juga sempat dibikin heboh dengan politisi yang mengambil cuti untuk pertama kalinya dalam sejarah. Ia adalah Menteri Lingkungan Jepang, Shinjiro Koizumi.

Koizumi mengambil cuti ayah selama dua minggu sebab ia ingin menemani istrinya melahirkan. Kendati cuti, Koizumi tetap menjalin komunikasi dengan rekan kerjanya melalui email atau video call untuk keperluan konferensi. Ia juga meminta tolong deputinya untuk mewakilinya saat rapat.

Pada pekan lalu, data dari Pemerintah Jepang hari ini menunjukkan di kuartal I-2020 PDB Jepang mengalami kontraksi alias minus 0,9% quarter-on-quarter (QoQ), sementara secara year-on-year (YoY) minus 3,4%.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *