Uni Eropa Resmi Masuk Jurang Resesi

Uni Eropa Resmi Masuk Jurang Resesi

Uni Eropa Resmi Masuk Jurang Resesi

Uni Eropa Resmi Masuk Jurang Resesi – Ekonomi Eropa mengalami penurunan hingga minus 11,9% pada kuartal II tahun ini. Ekonomi Eropa mengalami resesi, karena pada kuartal I-2020 terjadi penurunan 3,2%. Melansir icsdchurches.com, jika dibandingkan dengan kuartal kedua pada 2019, besaran anjloknya ekonomi negara-negara benua biru adalah 14,4 persen.

Pada awal Juli, Komisi Uni Eropa sempat melaporkan prediksi penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 8,3 persen yang diikuti rebound 5,8 persen pada 2021.

Beberapa negara memberlakukan pengetatan aturan lagi

Melihat situasi yang tak kunjung membaik, pemerintah Inggris memberlakukan pengetatan lagi. Kali ini, pengunjung dari Spanyol wajib menjalani karantina mandiri selama 14 hari. Langkah ini diprediksi akan memperlambat pertumbuhan di sektor pariwisata.

Sementara Italia mengumumkan status darurat COVID-19 diperpanjang hingga 15 Oktober mendatang. Sebelumnya, status tersebut dijadwalkan berakhir pada 31 Juli. “Sayangnya, pandemik hari ini belum sepenuhnya berakhir meski dampaknya sudah ditekan dan secara geografis dibatasi,” kata Perdana Menteri Giuseppe Conte, seperti dikutip AFP.

Mengganggu Aktivitas Ekonomi

Kekhawatiran soal lonjakan kasus COVID-19 terus menghantui

Walau survei terakhir memperlihatkan ada geliat aktivitas ekonomi yang terjadi, tapi kegelisahan mengenai lonjakan kasus COVID-19 tetap tidak bisa hilang. Menurut studi Institut Robert Koch, peningkatan kasus baru-baru ini “sangat mengganggu”.

Pusat pengendali penyakit di Jerman tersebut menyimpulkan bahwa jumlah kasus harian di Prancis kembali ke level yang sama ketika lockdown dihapus pada awal Mei lalu. Di Spanyol dan Italia, pemerintah juga mengonfirmasi tambahan tingkat infeksi virus corona.

PDB Spanyol yang paling anjlok di antara 27 negara Uni Eropa

Seperti yang diprediksi banyak pihak, Jerman adalah negara yang paling sedikit merasakan efek finansial dari pandemik COVID-19. Ekonomi terbesar di Uni Eropa itu mengalami penurunan PDB sebesar minus 10,1 persen.

Sedangkan Prancis dan Italia masing-masing sebesar minus 13,8 persen dan minus 12,4 persen. Ekonomi Spanyol yang paling terdampak di antara 27 negara Uni Eropa dengan minus 18,5 persen. Bert Colijn, ekonom senior di ING, memprediksi ini berpotensi membuat negara tersebut yang paling lama menderita secara keuangan.

“Perbedaannya lebih besar dari yang dibayangkan dan dengan dibatalkannya langkah-langkah pembukaan kembali secara lokal [untuk kuartal ketiga], Spanyol bersiap untuk mengalami penurunan ekonomi untuk waktu yang lama,” kata dia.